Cairan pada vagina adalah hal alami yang dialami semua perempuan. Cairan ini berfungsi sebagai mekanisme pembersihan alami untuk menjaga keseimbangan bakteri dan mencegah infeksi.
Cairan normal biasanya terdiri dari campuran sel-sel kulit vagina, lendir, bakteri baik, dan sekresi dari serviks.
Warnanya bisa bening hingga putih susu, bertekstur licin atau sedikit kental, dan memiliki bau ringan yang tidak menyengat.
Cairan ini juga membantu menjaga kelembapan serta melumasi jaringan vagina agar tetap sehat.
Setiap perempuan bisa memiliki jumlah cairan vagina yang berbeda—ada yang mengeluarkan lebih banyak, ada juga yang hanya sedikit.
Namun, perubahan pada warna, bau, tekstur, atau jumlah cairan bisa menjadi tanda adanya infeksi.
Jika cairan berubah menjadi kekuningan, kehijauan, kental seperti keju, atau berbau tajam disertai gatal, nyeri, atau sensasi terbakar, kemungkinan terjadi infeksi pada vagina, seperti infeksi jamur, vaginosis bakterialis, atau penyakit menular seksual.
Segera konsultasikan dengan dokter bila terjadi perubahan yang tidak biasa.
Menjaga kebersihan area intim, menghindari penggunaan sabun berpewangi, dan mengenakan pakaian dalam berbahan katun dapat membantu menjaga keseimbangan alami cairan pada vagina dan mencegah infeksi.
Ciri-Ciri Vagina Sehat

Mengetahui ciri cairan pada vagina yang normal dapat membantu Anda mengenali kondisi kesehatan area intim.
Cairan ini menjadi indikator alami kebersihan dan keseimbangan flora vagina. Untuk menentukan apakah cairan atau keputihan yang keluar masih tergolong normal, perhatikan beberapa hal berikut:
- Bau: Cairan pada vagina yang sehat umumnya tidak berbau menyengat atau tidak sedap.
Jika muncul bau tajam atau amis, bisa jadi ada infeksi bakteri atau jamur. - Warna: Cairan normal biasanya berwarna bening atau putih susu. Perubahan warna menjadi kekuningan, kehijauan, atau keabu-abuan dapat menandakan gangguan tertentu.
- Konsistensi: Cairan vagina dapat memiliki tekstur yang bervariasi, mulai dari kental dan lengket hingga licin dan basah.
Perubahan ini normal dan dipengaruhi oleh siklus menstruasi, ovulasi, atau perubahan hormon. - Jumlah: Volume cairan pada vagina dapat berbeda pada setiap individu dan juga berubah sepanjang siklus menstruasi.
Produksi cairan bisa meningkat saat berhubungan seksual, selama kehamilan, atau saat menggunakan alat kontrasepsi hormonal.
Menjaga keseimbangan cairan pada vagina penting untuk mendukung kesehatan area intim dan mencegah infeksi.
Jika terjadi perubahan mencolok pada warna, bau, atau jumlah cairan, sebaiknya segera konsultasikan ke tenaga medis.
Tanda Cairan pada Vagina Menunjukkan Infeksi

Cairan pada vagina atau keputihan pada dasarnya merupakan hal yang normal. Namun, cairan ini bisa menjadi tanda adanya infeksi bila disertai rasa gatal, perih, atau gejala tidak nyaman lainnya.
Penting untuk mengenali perbedaan antara cairan vagina yang normal dan cairan yang menunjukkan tanda infeksi.
Berikut beberapa ciri yang perlu diwaspadai:
- Bau tidak sedap atau amis
- Gatal pada vulva, lubang vagina, atau labia
- Nyeri, kemerahan, atau pembengkakan pada vulva
- Warna cairan berubah menjadi hijau, kuning, atau abu-abu
- Tekstur cairan menyerupai keju cottage atau nanah
- Nyeri saat berhubungan seksual atau buang air kecil
- Cairan bercampur darah tanpa sebab jelas
- Nyeri di area panggul atau perut bagian bawah
Perubahan pada cairan vagina dapat disebabkan oleh berbagai infeksi, antara lain:
1. Infeksi Jamur
Infeksi jamur (kandidiasis) terjadi saat pertumbuhan jamur Candida di vagina tidak terkendali.
Kondisi ini ditandai oleh cairan pada vagina yang kental, berwarna putih seperti keju cottage, disertai gatal, bengkak, dan rasa perih saat berhubungan seksual. Infeksi jamur dapat diatasi dengan obat antijamur.
2. Trikomoniasis (Trich)
Trikomoniasis merupakan infeksi menular seksual (IMS) yang disebabkan oleh parasit Trichomonas vaginalis.
Infeksi ini menghasilkan cairan berwarna hijau, kuning, atau abu-abu yang tampak berbusa dan berbau tidak sedap.
Penanganannya memerlukan antibiotik dari tenaga medis.
3. Vaginosis Bakterial (BV)
Vaginosis bakterial muncul ketika jumlah bakteri tertentu di vagina meningkat secara berlebihan.
Cairan pada vagina biasanya berwarna putih keabu-abuan dan berbau busuk atau amis. Meski dapat menular melalui hubungan seksual, BV juga bisa terjadi tanpa aktivitas seksual. Pengobatannya menggunakan antibiotik.
4. Gonore dan Klamidia
Kedua infeksi menular seksual ini dapat menyebabkan cairan vagina tampak keruh, berwarna kuning, atau hijau.
Jika tidak diobati, infeksi bisa menyebar dan menimbulkan penyakit radang panggul (PID) yang menyebabkan nyeri perut bawah dan gangguan kesuburan. Pengobatan memerlukan antibiotik dari tenaga kesehatan.
Pilihan Pengobatan untuk Cairan pada Vagina yang Tidak Normal
Jika cairan pada vagina berubah warna, bau, atau menyebabkan rasa tidak nyaman, kondisi ini bisa menandakan adanya infeksi.
Sebelum memulai pengobatan apa pun, sebaiknya lakukan pemeriksaan fisik oleh dokter kandungan untuk menentukan penyebab pastinya.
Tergantung pada penyebab kelainan cairan vagina, dokter mungkin akan meresepkan antibiotik, antijamur, atau antivirus.
Selain pengobatan medis, perubahan gaya hidup juga berperan penting untuk membantu pemulihan dan mencegah kekambuhan.
Beberapa langkah yang bisa dilakukan:
- Gunakan pakaian dalam berbahan katun yang longgar agar area intim tetap kering dan tidak lembap.
- Bersihkan area genital dengan air hangat, lalu keringkan dengan lembut setelah buang air kecil atau besar.
- Hindari membersihkan bagian dalam vagina (douching) karena dapat mengganggu keseimbangan bakteri alami.
- Jangan gunakan sabun atau tisu basah berpewangi, karena dapat menyebabkan iritasi dan memperburuk kondisi cairan vagina.
Perlu diingat bahwa cairan pada vagina merupakan bagian alami dari sistem pertahanan tubuh. Cairan ini membantu menjaga kebersihan, melindungi dari infeksi, dan menjaga kelembapan vagina.
Namun, perubahan pada warna, konsistensi, bau, atau jumlah cairan—terutama bila disertai gatal atau nyeri—perlu segera dikonsultasikan ke dokter. (xt)
Referensi
Cleveland Clinic. Diakses pada 2025. Vaginal Discharge.
Pantai.Diakses pada 2025. Vaginal infections.
PubMed Central. Diakses pada 2025. Vaginal discharge: evaluation and management in primary care.


Leave feedback about this